![]() |
| DISCLAIMER : JANGAN DILIHATIN TERUS, LAMA-LAMA NANTI SUKA |
Obrolan jam kosong tentang sekolah kedinasan yang diminati banyak orang karena gratis biaya dan setelah lulus langsung mendapatkan kerja merupakan topik yang membuat saya sedikit menyesal bahkan masih terpikirkan hingga saat ini. Bayangkan saja, sekolahnya gratis, setelah lulus langsung kerja. Berkerjanya bukan sekedar kerja, namun dengan menyandang status ASN.
Tidak dapat dipungkiri menjadi ASN merupakan hal yang sangat menggiurkan. Memang menjadi ASN tidak membuat hidup terjamin. Tapi menjadi bagian dari ASN dapat membuat hidup memiliki jaminan.
Penyesalan memang selalu datang diakhir. Jiwa yang bergejolak membuat imajinasi ini sedikit liar untuk membayangkan bagaimana jadinya jika setelah lulus SMA saya melanjutkan di sekolah kedinasan. Tidak ada tujuan lain, hanya menghibur diri dengan kondisi saat ini yang membuat saya banyak tersadarkan bahwa "hidup bukan sekedar tentang mengerjakan apa yang kita sukai. Lebih dari itu, kebutuhan akan masa depan harus benar-benar dipertimbangkan". Ini bukan berarti kurang bersyukur, ini wajar, manusiawi .
Ketika duduk di bangku SMA, saya memang kurang tertarik dengan sekolah kedinasan. Pemikiran saya saat itu masih terlalu cetek. Pengetahuan saya tentang sekolah kedinasan terbatas pada PKN STAN, IPDN, dan AKPOL. Padahal masih banyak sekolah kedinasan lainnya. Mohon dimaklumi, tahun 2010 dunia terbatas bilik warnet paket hemat lima ribu tiga jam. Tidak seperti saat ini, cukup beli kopi dua ribu gratis WiFi bisa numpang ngecharge lagi.
Berbicara tentang ketiga sekolah kedinasan diatas, saya kurang tertarik mencoba IPDN dan AKPOL karena sekolah kedinasan ini menuntut disiplin tinggi serta harus memiliki pola hidup sesuai dengan intruksi dan aturan. Berbalik dengan motto hidup saya saat itu "Do what make you happy and be your self". Sedangkan untuk KN STAN, bukan saya tidak tertarik. Menjadi bagian dari PKN STAN merupakan mimpi mayoritas anak jurusan IPS. Saya hanya sadar diri. Meskipun saya termasuk golongan cerdas berbakat, itu tidak cukup. Mereka mencari manusia yang memiliki seperempat bagian dari kecerdasan Albert Einstein.
Selain ketiga sekolah kedinasan diatas, berikut ini beberapa sekolah kedinasan yang dapat kalian jadikan referensi agar tidak memiliki pengetahuan yang terbatas seperti pada jaman informasi terbatas bilik warnet.
- STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik)
- STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara)
- STIN(Sekolah Tinggi Intelijen Negara)
- AKMIL (Akademi Militer)
- AAL (Akademi Angkatan Laut)
- AAU (Akademi Angkatan Udara)
- STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat)
- STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia)
- STMKG (Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika)
Pada akhir postingan ini dapat disimpulkan bahwa salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk dapat memenuhi kebutuhan akan masa depan adalah dengan sekolah kedinasan. Tapi, jika itu hanya salah satu, maka ada lebih dari satu cara untuk memenuhi kebutuhan akan masa depan. Bahkan lebih dari satu cara itu tidak terbatas pada kebutuhan akan masa depan diri sendiri tetapi mencakup kebutuhan akan masa depan orang lain.

Menginspirasi, mak mak yang punya anak SMP / SMA, supaya pandangan menjadi luas serta mempersiapkan minat anak - anaknya tanpa mengabaikan kenyamanan anak, makasih artikelnya
BalasHapusSama-sama bu...
HapusAlhamdulillah jika artikelnya bermanfaat. Semoga Ananda dipermudah dalam menggapai cita-citanya 😇