Dari Keterbatasan Sumber Belajar Menuju Pembelajaran Bermakna


        Ada momen di setiap tahun ajaran baru yang selalu membuat setiap guru berdebar. Momen itu adalah momen pembagian tugas mengajar. Tahun ajaran ini, ternyata tidak hanya murid saya saja yang naik kelas, tapi gurunya juga ikut naik kelas.  Ya, setelah setahun kemarin membersamai anak-anak di kelas 5, tahun ini saya mendapat amanah untuk mendampingi mereka lagi di kelas 6. Pertimbangan yang disampaikan saat rapat pembagian tugas sangat jelas, saya sudah memahami karakter tiap anak sehingga tidak perlu penyesuaian lagi mengingat waktu efektif kelas 6 yang relatif singkat dengan kegiatan asesmen yang sangat padat.

Kembali mendampingi murid di kelas 6 ternyata bukan soal wajah-wajah yang sudah familiar dengan berbagai macam karakteristiknya. Selain waktu yang relatif singkat, tantangan lainnya adalah adanya perubahan materi di beberapa mata pelajaran. Perubahan materi tentu saja berkaitan dengan  buku pelajaran yang ada di sekolah. Hal ini mengakibatkan tidak semua buku bisa digunakan. Sedangkan untuk pengadaan buku terbaru, tentu membutuhkan waktu. Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan materi pembelajaran yang relevan? Bagaimana semua materi dapat terselesaikan jika sumber belajarnya saja tidak relevan? Jujur, kondisi ini membuat pikiran saya terkuras. Saya mencoba berpikir tentang bagaimana caranya agar bisa mengejar semua target materi ini dalam waktu yang relatif singkat, tapi pembelajarannya tetap bermakna.


        Beberapa hari bergulat dengan pemikiran tersebut,  akhirnya permasalahan ini mulai mendapatkan titik terang ketika saya secara tidak sengaja membuka sosial media. Saya menemukan salah satu postingan dari akun kemendikdasmen tentang pemanfaatan ruang murid pada rumah pendidikan. Dari postingan tersebut saya langsung mengaksesnya. Setelah saya kulik, pada ruang murid sudah lengkap sekali inspirasi bahan belajarnya. Mulai dari sumber belajar, latihan soal, sumber buku pendidikan, hingga lab maya pun tersedia di dalamya. Koten didalamnya pun beragam. Mulai teks bacaan, video pembelajaran, hingga kuis interaktif yang menarik.



        Mengetahui adanya ruang murid membuat saya sedikt lega. Kemudian munculah ide untuk memanfaatkan IFP sebagai media belajar dengan mengintegrasikan ruang murid untuk akselerasi pembelajaran. Walaupun ide sederhana ini terkesan merombak paradigma belajar klasikal, namun melalui intergasi ruang murid dengan IFP membuat materi-materi baru yang tadinya kelihatan abstrak, bisa disajikan dengan jauh lebih visual dan interaktif sehingga pembelajaran yang tadinya butuh waktu dua kali pertemuan untuk dijelaskan lewat papan tulis, bisa dipahami anak-anak lebih cepat tanpa kehilangan esensinya.  Langkah kecil mengintegrasi IFP dengan ruang murid yang saya lakukan ini bukan cuma mempermudah tugas saya sebagai guru dalam menyampaikan materi, tapi juga membuat  proses belajar anak-anak jadi lebih hidup dan tidak membosankan.

Terima kasih banyak untuk adanya ruang murid dan  bantuan PID yang sudah diberikan. Tanpa hadirnya ruang murid dan PID di ruang kelas kami, perjalanan kami kedepannya tentu akan menjadi berat. 


Share:

0 Comments:

Posting Komentar

Saya percaya pembaca blog memiliki pemikiran yang lebih dewasa dalam memberikan sebuah tanggapan atau komentar. Tidak sulit membuat saya bahagia, cukup tinggalkan komentar, bukan spam!