Menitih karir memang bukan perkara yang mudah. Dalam perjalanannya, untuk mencapai titik sukses, seseorang harus berhasil melewati titik terendah dalam karirnya. Keuletan dan kesabaran ekstra memang sangat dibutuhkan untuk melewati fase tersebut. Oleh karena itu, pada kehidupan seperti saat ini, tidak jarang jika ada kesempatan lain yang lebih menjanjikan, seseorang akan lebih memilih untuk beralih profesi.
Memutuskan menitih karir dalam dunia pendidikan sebagai pengajar merupakan sebuah keputusan yang sangat mulia. Bagaimana tidak, seorang pengajar harus melewati titik terendah dalam karirnya yaitu menjadi seorang honorarium. Memang tidak mudah untuk melewatinya karena proses ini memang bukan proses yang sederhana. Apalagi pada jaman saat ini dimana segala sesuatunya memiliki nilai. Maka dari itu, bukanlah sebuah keputusan yang rumit lagi bagi seorang honer jika mereka mendapatkan kesempatan karir yang lain yang lebih menjamin.
Kesempatan berkarir yang lebih layak kali ini diterima oleh salah satu seorang guru honorer yang merupakan teman saya kuliah dulu yaitu Alvin Mujahid. Saya sendiri sempat terkejut saat mendapatkan kabar tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, saya sendiri menjalani menjadi seorang honorer, dan saya merasakan apa yang dia rasakan.
Bagi saya, Alvin adalah sosok honorer yang sangat luar biasa. Pada awal pengalaman mengajar, dia langsung diberikan kepercayaan untuk mencetak lulusan terbaik di sekolahnya. Tidak itu saja, tugas tambahan yang menyangkut hajat hidup dan kelancaran sekolah pun sering dibebankan padanya. Bahkan, dia sering mengambil alih tugas kepemimpinan, koordinasi, dan tugas-tugas lainnya yang seharusnya menjadi tanggung jawab rekan-rekannya yang berpangkat.
Memang bukan sebuah masalah besar jika dunia pendidikan kehilangan seorang Alvin. Lalu , Bagaimana jika ada sepuluh, seratus, bahkan seribu sosok seperti Alvin yang memilih kesempatan lain untuk menjamin kelangsungan hidupnya?
Wajah dunia pendidikan saat ini memang sedikit suram. Ada beberapa poin yang menurut saya menyebabkan suramnya wajah pendidikan di Indonesia. Pertama, dunia pendidikan saat ini sudah dijadikan sebagai ladang bisnis bagi beberapa oknum. Menjamurnya lembaga pendidikan dan kemudahan menukarkan nilai uang dengan ijasah menghasilkan lulusan dengan kredibilitas yang dipertanyakan.
Kedua, berkecimpung dalam dunia pendidikan sangatlah mudah. Syaratnya pun tidak terlalu kentara. Apalagi jika sudah ada hubungan darah ataupun saudara. Rasanya ini memang tidak adil sekali bagi mereka yang benar-benar berpotensi dan berjuang untuk mendapatkan ijasahnya. Mereka harus tersisih dan mengambil jalan lainnya. Nah, jika hal ini terus berlanjut, maka kualitas pelaku pendidikannya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Lalu, bagaimana yang seperti itu bisa menghasilkan pendidikan berkualitas?
Akhir-akhir ini pelajar Indonesia memang sering mentereng di ajang Internasional. Tapi yang perlu diingat, kurikulum apa yang digunakan untuk mengajar? Apakah pengajar-pengajar tersebut nampak seperti wajah guru nasional pada umunya?
Jawabanya tentu TIDAK. Banyak sekolah di Indonesia saat ini yang menggunakan kurikulum Cambridge dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan pengajarnya? Saya sendiri mengalami, untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut tidaklah mudah. Sebelum diterima, mereka tentu melewati seleksi yang ketat. Setelah diterima, mereka juga diberikan pembekalan keterampilan mengajar dan yang pasti adanya jaminan kesejahteraan untuk mereka semua.
Sekiranya itulah catatan saya untuk hari guru kali ini. Selamat hari guru bagi seluruh pendidik di Indonesia. Semoga para guru yang masih berada pada titik terendah dalam karirnya dapat terus bertahan. Ingatlah, tolak ukur titik kesuksesan guru adalah keberhasilan para peserta didiknya, bukan status atau jabatannya. Tapi jika memang harus mengambil kesempatan lain untuk mempertahankan keberlangsungan hidup, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Sejatinya guru tidak harus mengajar di depan kelas.


nice article...
BalasHapus